Surah Al-Ikhlas turun untuk menjadi jawaban bagi orang musyrik yang bertanya pada Nabi Muhammad Saw tentang nasab dan sifat Rabb (Tuhan). Untuk budaya Arab, nashab atau garis keturunan saat itu sangatlah penting, semakin tinggi derajat seseorang ketika ia berasal dari keturunan terpandang. Dinamakan Al-Ikhlas, meski tidak ada kata Ikhlas di dalamnya, karena Isi surah tersebut murni membicarakan mengenai Allah 'Azza wa Jalla, karena Al-Iklas bermakna "murni".
Inti dari surat Al-Ikhlas adalah Allah itu Ahad (Maha Esa). Allah itu Ash-Shamad, artinya Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-selamanya. Allah tidak beranak dan juga tidak diperanakkan karena memang tidak ada yang sejenis dengan Allah dan sifat itu mustahil bagi Allah. Maka seringkali surat ini disebut sebagai tsulutsul Quran) atau sepertiganya Alquran, karena dalam Al-Qur'an dibicarakan khusus tentang Allah. Padahal Al-Qur'an kandungannya adalah hukum, berita (cerita), dan tauhid.
Banyak hadis yang membicarakan keutamaan membaca surat Al-Ikhlas, dengan tidak menafikan keutaamaan surat-surat yang lainnya. Namun Al-Ikhlas seperti baterai yang siap memberi energi segar kepada handphone terkait ketauhidan kita. Apa kabar? Tak jarang kesibukan sehari-hari melenakan. Menjalaninya asal berjalan, tanpa rasa lagi. Padahal sangatlah penting kita mengingat kembali masihkah kita meng-Esakan Allah?
Komentar
Posting Komentar