Langsung ke konten utama

Mensucikan Jiwa di Bulan Ramadhan


Seorang muslim adalah orang-orang yang selalu dalam kebaikan. Khususnya kepada mereka yang dianugerahkan Allah Ta’ala berjumpa dengan bulan Ramadhan ini. Masa-masa yang penuh dengan kebaikan dan ibadah. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk memanfaatkannya dengan sempurna. Mengisinya dengan berbagai macam ketaatan; puasa, shalat malam, membaca Alquran, sedekah, dll. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang terhalangi dari kebaikan, ketika peluang kebaikan itu dibuka selebar-lebarnya. Mereka inilah orang-orang tujuan hidupnya hanya apa yang mereka inginkan. Sehingga berlalu hari-hari penuh kebaikan, mereka dalam keadaan lalai dan tak peduli.

Padahal seseorang itu hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia menggunakan waktunya dalam kebaikan. Sehingga ia banyak mendapatkan kemanfaatan. Atau yang kedua ia gunakan waktunya dalam keburukan. Sehingga kemudharatanlah yang ia dapatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap manusia melakukan perbuatan: ada yang menjual dirinya kemudian memerdekakannya atau membinasakannya.” (HR. Muslim).

Manusia, mereka sendirilah yang mengarahkan dan mengatur diri mereka -setelah Allah-. Apabila mereka mengarahkan diri mereka kepada kabaikan, mensucikannya dengan ketaatan, dan mengekangnya untuk kemanfaatan, maka apa yang mereka lakukan adalah sebaik-baik amanah.

Namun, jika mereka tidak mampu mengarahkan diri mereka, tentu sulit diharapkan kalau mereka akan mampu mengarahkan orang lain. Kalau mereka menelantarkan diri mereka sendiri, mereka pun tak akan mampu membina masyarakatnya.

Jika mereka membiarkan diri mereka melakukan apa yang mereka inginkan berupa kemaksiatan dan kemalasan, mereka inilah orang-orang yang menelantarkan dirinya. Jika mereka menelantarkan dirinya, apalagi yang bisa ia jaga? Bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah sesuatu yang paling ia berarti baginya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” [Quran Asy-Syams: 7-9].

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga Wasiat Dari Surat Al-An'am

Sumber Gambar. (Pexels)  Wasiat pertama:  Untuk tidak menyekutukan Allah (berbuat syirik). Karena kesyirikan adalah pokok segala yang diharamkan dan induk segala dosa. Berkata sahabat Ibnu Mas’ud, Aku bertanya kepada Rasululloh tentang dosa apa yang paling besar? Beliau menjawab: Kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.”  [Muttafaqun ‘alaihi] Kesyirikan adalah dosa yang Allah tidak akan mengampuninya bila seorang tidak bertobat darinya. Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa: 48) Sesungguhnya, terbebasnya keyakinan dari noda kesyirikan dan kemurnian iman merupakan jalan keselamatan dan pondasi kokoh yang agama ini dibangun diatasnya. Bila keyakinan seorang tidak lepas dari kesyirikan maka amalan sep...